“Foto ratusan pekerja sibuk mencari pekerjaan kepada pemodal”
Oleh : Odhe Haltim
Ada pertanyaan besar yang layak diajukan terhadap sistem pendidikan Indonesia apakah sekolah benar-benar sedang membebaskan manusia, atau justru sedang membentuk generasi yang patuh, bergantung, dan siap menjadi tenaga kerja?
Di tengah perubahan dunia yang bergerak semakin cepat, kita masih mempertahankan model pendidikan yang terlalu menekankan hafalan, kepatuhan, nilai rapor, ujian, dan gelar. Anak duduk berjam-jam di ruang kelas, menerima materi, menghafal jawaban, lalu diuji berdasarkan kemampuannya mengulang apa yang telah diajarkan.
Ratusan calon pekerja setiap hari datangi dukcapil untuk proses melamar pekerjaan
Masalahnya bukan sekadar metode belajar. Masalahnya adalah cara kita mendefinisikan keberhasilan pendidikan.
Anak yang berbeda sering dianggap bermasalah. Anak yang terlalu banyak bertanya bisa dicap mengganggu. Kreativitas kerap kalah oleh kepatuhan terhadap pola. Padahal, bangsa yang ingin maju membutuhkan manusia yang mampu berpikir, mempertanyakan, menciptakan, mengambil risiko, dan memecahkan persoalan nyata.
Lalu kita sampai pada pertanyaan yang lebih sederhana sekaligus lebih menohok, setelah bertahun-tahun belajar, apakah seorang lulusan mampu menciptakan nilai secara mandiri dari ilmu dan keterampilannya?
Banyak lulusan justru keluar dari sekolah dan perguruan tinggi dengan orientasi yang sangat sempit, mendapatkan pekerjaan.
Tentu bekerja bukan sesuatu yang salah. Namun pendidikan yang hanya mempersiapkan seseorang untuk menjadi pencari kerja berpotensi meninggalkan aspek penting lain, kemampuan menciptakan usaha, mengelola uang, membangun aset, memahami risiko, memecahkan masalah, dan mengubah pengetahuan menjadi nilai ekonomi.
Seorang lulusan ekonomi semestinya tidak hanya memahami teori ekonomi. Ia juga perlu memahami bagaimana keputusan ekonomi bekerja dalam kehidupan nyata. Demikian pula lulusan ilmu sosial, teknik, sains, maupun bidang lainnya harus memiliki kemampuan menerapkan pengetahuan, bukan sekadar membawa selembar ijazah.
Jika pendidikan berhenti pada pencetakan lulusan, sementara kemampuan menciptakan nilai tidak menjadi bagian penting dari proses belajar, maka kita sedang membangun ketergantungan.
Ketergantungan kepada lowongan pekerjaan. Ketergantungan kepada perusahaan. Ketergantungan kepada negara. Dan pada akhirnya, ketergantungan kepada sistem yang menentukan siapa yang diterima dan siapa yang tersingkir.
Kritik berikutnya menyentuh persoalan yang tidak kalah serius, pendidikan tentang kesehatan.
Sekolah memang mengajarkan biologi, anatomi, olahraga, dan berbagai pengetahuan tentang tubuh manusia. Tetapi pengetahuan tentang tubuh tidak otomatis membuat seseorang mampu menjaga tubuhnya.
Generasi muda membutuhkan pendidikan yang lebih praktis mengenai nutrisi, pola tidur, aktivitas fisik, kesehatan mental, kebiasaan hidup, konsumsi makanan, serta cara mengambil keputusan yang berdampak terhadap kesehatan jangka panjang.
Pengetahuan kesehatan tidak seharusnya berhenti sebagai hafalan tentang nama organ tubuh. Anak harus memahami bagaimana tubuh bekerja dan bagaimana keputusan sehari-hari dapat menentukan kualitas hidupnya.
Hal yang sama berlaku pada pendidikan agama dan moral.
Ketika agama hanya diperlakukan sebagai mata pelajaran yang harus dihafalkan demi memperoleh nilai, ada risiko nilai spiritual kehilangan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama seharusnya tidak berhenti pada teks, definisi, sejarah, atau ujian tertulis, tetapi juga mendorong kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, integritas, dan kemampuan mempertanggungjawabkan tindakan.
Sebab ironi terbesar pendidikan adalah ketika seseorang mampu menjawab soal tentang moralitas dengan benar, tetapi gagal menerapkannya ketika berhadapan dengan uang, kekuasaan, dan kepentingan pribadi.
Di titik inilah reformasi pendidikan seharusnya dimulai.
Kita tidak membutuhkan sekolah yang sekadar menghasilkan manusia yang pandai menjawab soal. Kita membutuhkan pendidikan yang menghasilkan manusia yang mampu berpikir, mencipta, bekerja, hidup sehat, berdiri sendiri, dan memiliki integritas.
Gelar akademik tetap dapat bernilai. Ilmu pengetahuan tetap penting. Tetapi gelar tidak boleh menjadi tujuan akhir pendidikan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, apa yang mampu dilakukan seseorang setelah bertahun-tahun dididik?
Apakah ia mampu berpikir tanpa diperintah?
Apakah ia mampu menciptakan sesuatu tanpa menunggu instruksi?
Apakah ia mampu mengelola kehidupannya sendiri?
Apakah ia mampu menghasilkan nilai bagi masyarakat?
Dan yang paling penting, apakah pendidikan membuat manusia semakin merdeka, atau justru semakin bergantung?
Jika sistem pendidikan tidak berani menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka persoalannya bukan lagi sekadar kurikulum. Persoalannya adalah arah masa depan manusia yang sedang kita bentuk. ****













