Foto Penyerahan Hadiah kepada peserta OGN 2026 di Sahid Bella Hotel di akhir Acara
Fagogoru Bersinar, Halteng Tembus Papan Atas OGN 2026
TERNATE — Dari tanah Fagogoru, angka tidak sekadar dihitung. Ia dipelajari, dimainkan, dan dihidupkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk berpikir, berkolaborasi, sekaligus mengenal akar budayanya.
Pesan itu mengemuka dalam penutupan Olimpiade Gasing Nasional (OGN) 2026 yang berlangsung di Kota Ternate dan Kabupaten Halmahera Tengah pada 5–7 Oktober 2026. Tampil sebagai tuan rumah sekaligus peserta, Halmahera Tengah (Halteng) berhasil menempatkan dua timnya di jajaran enam besar nasional.
Sekretaris Panitia Serahkan Hadiah kepada peserta OSN 2026
OGN 2026 mengusung tema “Semangat Fagogoru untuk Indonesia, Bersatu dalam Karya, Cerdas dalam Numerasi.” Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah melalui Dinas Pendidikan itu mempertemukan peserta didik sekolah dasar dari sejumlah kabupaten/kota di berbagai provinsi, antara lain Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Buton, Kepulauan Sangihe, Humbang Hasundutan, Bojonegoro, Buru, Bangli, Minahasa Selatan, Banyuwangi, dan Magetan.
Foto Ketua Panitia dan Sesi Foto Bersama di Akhir Acara
Kompetisi tidak hanya mengukur kemampuan berhitung. Peserta diuji melalui lima pos perlombaan yang mencakup hitung cepat, logika matematika, kreasi media, hingga drama budaya berbasis numerasi. Dengan demikian, matematika ditempatkan bukan semata sebagai kemampuan memperoleh jawaban, tetapi sebagai cara melatih ketelitian, penalaran, kreativitas, komunikasi, dan kerja sama.
Dua Tim Halteng di Enam Besar Nasional
Hasil kompetisi menempatkan Tim Halmahera Tengah 2 sebagai Harapan I nasional, sedangkan Tim Halmahera Tengah 1 meraih Harapan III.
Capaian tersebut menempatkan dua tim asal Halteng sekaligus dalam enam besar nasional. Pada papan teratas, Humbang Hasundutan meraih Juara I, Banyuwangi Juara II, dan Bangli Juara III.
Di tingkat regional, Tim Halmahera Tengah 2 juga meraih predikat Juara Terbaik Indonesia Timur. Capaian ini menjadi indikator bahwa kemampuan numerasi peserta didik dari kawasan timur Indonesia memiliki ruang kompetitif yang kuat dalam ajang berskala nasional.
Prestasi turut hadir pada kategori individu. Raditya Risman dari Halmahera Tengah 1 dan Babul Asyrah dari Halmahera Tengah 2 masing-masing meraih predikat Juara I Terbaik Individu Kabupaten.
Tidak berhenti pada capaian akademik, kedua tim juga memperoleh penghargaan yang menilai karakter dan nilai sosial. Tim Halmahera Tengah 2 dinobatkan sebagai Petualang Berkolaboratif, sedangkan Tim Halmahera Tengah 1 memperoleh predikat Petualang Duta Kearifan Lokal.
Dua penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi numerasi dalam OGN dipahami secara lebih luas: kemampuan berpikir berjalan beriringan dengan kemampuan bekerja bersama, berkomunikasi, dan membawa identitas budaya ke dalam proses pembelajaran.
Matematika yang Dekat dengan Anak
Penanggung Jawab Kegiatan sekaligus Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Tengah, Muksin Ibrahim, S.Pd., M.Si., mengatakan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari kedatangan kontingen, kompetisi lima pos, hingga kegiatan penjelajahan budaya, berlangsung dengan aman dan lancar.
Menurutnya, prestasi yang diraih peserta didik Halteng memiliki arti lebih dari sekadar perolehan gelar.
“Capaian anak-anak Halmahera Tengah di panggung nasional hari ini memberikan pesan yang jauh lebih dalam. Ini adalah pembuktian rasional bahwa anak-anak dari Halmahera Tengah memiliki kapasitas numerasi yang sejajar dan mampu bersaing dengan kabupaten mana pun di Indonesia.”
Muksin menilai capaian tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran yang dilakukan secara berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) yang digagas Prof. Yohanes Surya, Ph.D.
Pendekatan tersebut menempatkan pembelajaran matematika agar lebih dekat dengan pengalaman anak. Matematika tidak hanya dipandang sebagai kumpulan rumus, tetapi sebagai kemampuan memahami pola, mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan membangun kepercayaan diri.
Dalam konteks pendidikan, capaian Halteng di OGN 2026 sekaligus memberikan gambaran bahwa penguatan numerasi membutuhkan proses yang konsisten. Prestasi di satu kompetisi bukanlah titik akhir, melainkan salah satu indikator bahwa ekosistem pembelajaran mulai menemukan bentuk yang efektif.
Dari Fagogoru untuk Indonesia
Keberhasilan Halteng di OGN 2026 membawa satu pesan penting, jarak geografis tidak semestinya menjadi batas bagi kesempatan untuk berprestasi.
Dari wilayah timur Indonesia, anak-anak Fagogoru menunjukkan bahwa kemampuan berpikir dapat tumbuh ketika pendidikan diberikan dengan pendekatan yang tepat, lingkungan yang mendukung, serta ruang yang cukup bagi anak untuk mencoba dan berkembang.
Di panggung OGN 2026, angka-angka memang menjadi bahasa kompetisi. Namun di balik angka itu ada cerita yang lebih panjang tentang keberanian anak-anak untuk tampil, guru yang terus mendampingi, keluarga yang memberi dukungan, dan daerah yang memilih menjadikan pendidikan sebagai investasi masa depan.
Bagi Halmahera Tengah, capaian tersebut bukan sekadar tentang siapa yang berdiri di podium. Ia adalah pengingat bahwa dari tanah Fagogoru, mimpi tentang pendidikan berkualitas dapat tumbuh, dihitung dengan kerja keras, dan dibuktikan melalui prestasi.
Fagogoru tidak hanya berbicara tentang identitas. Di tangan generasi mudanya, ia mulai menjelma menjadi energi untuk belajar, berprestasi, dan memberi warna bagi Indonesia. (Odhe/Red)













