Ilustrasi Foto
Oleh : Odhe Haltim
Jangan terpesona oleh jabatan. Lihat ke mana lidahnya berbicara dan ke mana kakinya berpihak.
Dalam politik, jabatan, gelar, dan pencitraan kerap menjadi kemasan yang menutupi watak. Ada yang pandai berbicara tentang moral, tetapi ucapannya menyimpan racun. Ada yang mengaku cerdas, tetapi mendadak kehilangan keberanian ketika berhadapan dengan kekuasaan. Ada pula yang gemar menampilkan kesalehan, namun langkah politiknya justru menjauh dari kepentingan rakyat.
Ular boleh rajin berpuasa, tetapi bisanya tetap harus diwaspadai. Anjing bisa cerdas, tetapi menjilat bukanlah kehormatan. Babi haram, tetapi jalannya lurus. Sindiran itu sederhana, jangan menilai manusia hanya dari simbol, gelar, jabatan, atau citra yang dipertontonkan di depan publik. Nilailah dari sikap, keberanian, konsistensi, dan keberpihakannya.
Pejabat publik seharusnya berdiri tegak ketika kepentingan rakyat dipertaruhkan. Bukan membungkuk ketika berhadapan dengan penguasa. Bukan pula menjadikan jabatan sebagai alasan untuk mengorbankan prinsip.
Kekuasaan dapat mengangkat seseorang ke puncak. Jabatan dapat diberikan. Gelar dapat disematkan. Pencitraan dapat dibangun. Tetapi watak tidak mudah disembunyikan selamanya.
Pada akhirnya, publik akan melihat, siapa yang berani bersuara ketika rakyat ditekan, siapa yang diam ketika kepentingan penguasa harus dikritik, dan siapa yang memilih kenyamanan jabatan daripada kebenaran.
Karena kehormatan seorang pejabat bukan diukur dari setinggi apa kursinya, melainkan seberapa tegak ia berdiri ketika kepentingan rakyat berhadapan dengan kekuasaan.
Yang paling memalukan bukan kehilangan jabatan.
Yang paling memalukan adalah kehilangan prinsip demi mempertahankan jabatan.
Catatan Publik | Sindiran Pejabat Publik | Kritik Sosial | Suara Rakyat. ****













