DaerahHalmahera BaratHALTENGKota TernateMaluku UtaraNasionalPemerintahanPENDIDIKANTeknologi

OGN 2026 di Halteng! Saat Matematika Tumbuh dari Timur

56
×

OGN 2026 di Halteng! Saat Matematika Tumbuh dari Timur

Sebarkan artikel ini

Foto Kadisdik Halteng, Muksin Ibrahim, S.Pd,. M.M saat Menyampaikan Laporan

Dari Halteng, Gasing Menyalakan Mimpi Anak Indonesia

TERNATE — Angka-angka tak selalu dingin. Di tangan anak-anak, matematika bisa menjadi permainan, tantangan, bahkan jalan untuk menumbuhkan keberanian bermimpi.

Foto Sejumlah pihak hadiri Acara OGN 2026 di Said Bella Hotel Kota Ternate

Semangat itulah yang terasa dalam pembukaan Olimpiade Gasing Nasional (OGN) 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah bekerja sama dengan Yayasan Teknologi Indonesia Jaya di Hotel Bela, Ternate, Senin (5/10/2026).

Selama tiga hari, 5–8 Oktober 2026, OGN 2026 mempertemukan siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bukan sekadar datang untuk berebut medali, tetapi membawa satu pesan penting: bahwa kemampuan numerasi dapat tumbuh ketika anak belajar dengan cara yang tepat, menyenangkan, dan memberi ruang bagi mereka untuk percaya pada kemampuan sendiri.

Dalam laporan kegiatan, Muksin mengatakan OGN 2026 menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan numerasi nasional melalui metode Gasing – Gampang, Asik, dan Menyenangkan. Ajang tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan Kabupaten Halmahera Tengah serta kekayaan budaya lokal ke panggung nasional.

“Meningkatkan kemampuan numerasi nasional berbasis metode Gampang, Asik, dan Menyenangkan (Gasing), serta memperkenalkan Kabupaten Halmahera Tengah dan kebudayaan lokal ke panggung nasional,” ujar Muksin saat membacakan laporan kegiatan.

Lima Pos, Satu Semangat

Rangkaian OGN 2026 dirancang tidak hanya menguji kemampuan berhitung, tetapi juga kreativitas, kerja sama, keberanian, strategi, dan karakter peserta.

Pada Senin (5/10/2026), kegiatan diawali dengan kedatangan kontingen, pembukaan, technical meeting, serta instalasi aplikasi lomba. Kompetisi utama berlangsung Selasa (6/10/2026), dengan peserta menghadapi lima pos interaktif.

Pos 1, “Semangat Jagoan Bakal Kubagi”, menguji ketepatan dan kecepatan berhitung secara digital, baik individu maupun kelompok.

Kemudian Pos 2, “Bersatu dalam Karya”, mengajak peserta mengasah kreativitas melalui pembuatan media pembelajaran dan soal cerita.

Di Pos 3, “Cerdas dalam Numerasi”, matematika dikemas dalam bentuk petualangan dan permainan interaktif. Peserta tidak hanya dituntut memperoleh jawaban, tetapi juga menikmati proses menemukan cara untuk sampai pada jawaban tersebut.

Sementara Pos 4, “Panggung Gasing dalam Budaya”, memadukan pembelajaran matematika dengan seni dan budaya lokal melalui pertunjukan serta roleplay.

Adapun Pos 5, “Gasing Mes Podium”, menjadi puncak kompetisi. Peserta ditantang mencongak secara cepat, tepat, strategis, sekaligus menunjukkan karakter dan sportivitas.

Setelah berkompetisi, para peserta dijadwalkan mengikuti ekskursi wisata lokal dan pengenalan budaya pada Rabu (7/10), sebelum rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan penghargaan. Sehari berikutnya, Kamis (8/10), seluruh kontingen kembali ke daerah masing-masing.

Dari Timur, Membawa Pesan tentang Kesempatan

Pendiri Yayasan Teknologi Indonesia Jaya, Prof. Yohanes Surya, mengapresiasi perkembangan metode Gasing yang telah dikembangkannya selama lebih dari dua dekade.

Menurut Yohanes, metode tersebut kini telah diterapkan di lebih dari 33 provinsi dan 133 kabupaten di Indonesia.

Baginya, OGN bukan sekadar kompetisi matematika. Di balik angka dan hitungan, ada upaya membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak Indonesia untuk menemukan potensi terbaiknya.

“Olimpiade Gasing Nasional ini lahir dari sebuah keyakinan sederhana, bahwa anak Indonesia dari mana pun bisa hebat matematika asal diajar dengan cara yang benar,” kata Yohanes.

Perjalanan OGN pun memiliki cerita tersendiri. Ajang tersebut bermula dari Bitung, Sulawesi Utara, kemudian berlanjut ke Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Banyuwangi, Jawa Timur, hingga akhirnya tiba di Halmahera Tengah.

“Jadi Gasing bergerak dari timur ke barat, lalu kembali ke timur, membawa pesan yang sama ke setiap daerah,” ungkapnya.

Yohanes menyebut, perkembangan kemampuan anak-anak di Indonesia Timur menunjukkan lompatan yang signifikan. Berdasarkan hasil evaluasi yang disampaikannya, kemampuan peserta pelatihan bahkan dapat meningkat hingga 10 kali lipat antara pre-test dan post-test.

Pesan yang ingin dibawa sederhana, tetapi dalam, kesempatan belajar yang baik dapat mengubah cara seorang anak memandang dirinya sendiri.

“Di sini kita lihat enggak ada anak bodoh. Yang ada itu hanya anak yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang tepat,” tutur Yohanes.

Uriel dan Mimpi yang Tak Mengenal Batas Daerah

Semangat tersebut kemudian menemukan wajahnya dalam kisah M Uriel Alfifari, putra daerah Halmahera Tengah yang kini berusia 14 tahun dan duduk di kelas 2 SMP.

Yohanes menceritakan, Uriel pernah belajar metode Gasing dan kemudian mendapat bimbingan intensif melalui Gasing Academy. Ia disebut berhasil menemukan celah keamanan pada situs resmi NASA dan melaporkannya melalui NASA Vulnerability Disclosure Program.

Atas penemuan tersebut, NASA mengirimkan piagam penghargaan dan mengakui Uriel sebagai peneliti keamanan siber.

Bagi Yohanes, perjalanan Uriel menjadi pengingat bahwa kecerdasan tidak mengenal batas usia maupun letak geografis.

“Uriel pernah belajar Gasing dan kini kami bimbing secara intensif di Gasing Academy untuk lanjut bertanding di berbagai olimpiade nanti ke depannya. Uriel adalah bukti bahwa usia muda dan asal daerah bukan penghalang,” katanya.

Dari sebuah daerah di timur Indonesia, kisah Uriel menyampaikan pesan yang jauh lebih luas: bahwa mimpi seorang anak tidak semestinya berhenti hanya karena ia lahir jauh dari pusat-pusat pendidikan dan teknologi.

Bukan Hanya Medali

Menutup sambutannya, Yohanes mengingatkan peserta agar menjadikan OGN sebagai ruang belajar, bukan semata-mata arena untuk menang dan kalah.

“Ingat, kalian semua adalah juara. Kalian telah sampai di tingkat nasional. Yang paling penting bukan medali yang kalian bawa pulang, tapi teman baru, pengalaman baru, dan rasa percaya diri bahwa kalian bisa. Kalau kalian bisa matematika, kalian bisa belajar apa saja,” pesannya.

Pada akhirnya, OGN 2026 bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menghitung atau siapa yang berdiri paling tinggi di podium.

Ia adalah cerita tentang anak-anak yang berani mencoba, guru yang membuka jalan, daerah yang memberi kesempatan, dan mimpi yang perlahan tumbuh dari angka-angka sederhana.

Sebab terkadang, masa depan memang bermula dari sesuatu yang kecil, sebuah soal, sebuah jawaban, dan seorang anak yang mulai percaya bahwa dirinya mampu. (Odhe/Red)