TERNATE — Olimpiade Gasing Nasional (OGN) 2026 Halmahera Tengah yang dilaksanakan di Sahid Bella Hotel Ternate Senin, (5/10/2026) sore tadi menjadi panggung untuk membantah anggapan bahwa kemampuan matematika ditentukan oleh asal daerah.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah bersama Yayasan Teknologi Indonesia Jaya menggelar ajang nasional itu pada 5–8 Oktober 2026 dengan membawa satu pesan tegas yaitu anak Indonesia bisa hebat jika diberi metode dan kesempatan belajar yang tepat.
Pendiri Yayasan Teknologi Indonesia Jaya, Prof. Yohanes Surya, menegaskan tidak ada anak yang bodoh. Menurut dia, persoalannya terletak pada kesempatan dan metode pembelajaran.
“Di sini kita lihat enggak ada anak bodoh. Yang ada itu hanya anak yang belum dapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang tepat,” kata Yohanes.
OGN 2026 diikuti siswa-siswi SD terbaik dari berbagai daerah. Kompetisi menggunakan metode Gasing – Gampang, Asik, dan Menyenangkan melalui lima pos yang menguji kecepatan berhitung, kreativitas, numerasi, budaya, strategi, hingga karakter.
Muksin mengatakan kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan numerasi nasional sekaligus memperkenalkan Halmahera Tengah dan budaya lokal ke tingkat nasional.
Menurut Yohanes, metode Gasing yang dikembangkannya selama lebih dari dua dekade kini telah diterapkan di lebih dari 33 provinsi dan 133 kabupaten di Indonesia.
Ia menyebut hasil pelatihan di sejumlah daerah menunjukkan lompatan kemampuan peserta hingga 10 kali lipat berdasarkan perbandingan pre-test dan post-test.
Angka itu sekaligus membuka pertanyaan lebih besar tentang pendidikan! berapa banyak anak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi belum memperoleh guru, metode, dan kesempatan yang memadai?
Anak Timur Menembus Batas
Yohanes mencontohkan M Uriel Alfifari, anak Halmahera Tengah berusia 14 tahun yang disebut berhasil menemukan celah keamanan pada situs resmi NASA dan melaporkannya melalui NASA Vulnerability Disclosure Program.
Menurut Yohanes, NASA kemudian memberikan piagam penghargaan dan mengakui Uriel sebagai peneliti keamanan siber.
“Uriel adalah bukti bahwa usia muda dan asal daerah bukan penghalang,” ujarnya.
Kisah Uriel menjadi tamparan terhadap stigma bahwa anak daerah hanya mampu menjadi penonton di panggung prestasi nasional maupun global.
OGN sendiri sebelumnya digelar di Bitung, Humbang Hasundutan, dan Banyuwangi sebelum kini berlangsung di Ternate. Bagi Yohanes, pergerakan tersebut membawa pesan yang sama dari satu daerah ke daerah lain dan kesempatan dapat mengubah kemampuan menjadi prestasi.
Yohanes mengingatkan peserta bahwa kemenangan tidak semata-mata diukur dari medali.
“Yang paling penting bukan medali yang kalian bawa pulang, tapi teman baru, pengalaman baru, dan rasa percaya diri bahwa kalian bisa. Kalau kalian bisa matematika, kalian bisa belajar apa saja.”
OGN 2026 akhirnya bukan sekadar perlombaan berhitung. Ia menjadi pengingat bahwa masalah terbesar bukan selalu anak yang tidak mampu, melainkan apakah sistem pendidikan sudah cukup serius memberi mereka kesempatan untuk mampu.
Sebab kecerdasan tidak mengenal batas wilayah. Yang sering terbatas justru kesempatan. (Odhe/Red)













