Foto Aksi Nyata PT Smart Marsindo untuk Warga Pulau Gebe
HALTENG — Ketika aktivitas penambangan nikel PT Smart Marsindo di Pulau Gebe, Kabupaten Halmahera Tengah, belum sepenuhnya memasuki tahap produksi, sejumlah dukungan sosial perusahaan kepada masyarakat disebut masih berjalan.
Foto Penyerahan Bus Sekolah & Truk Sampah PT Smart Marsindo untuk warga Pulau Gebe
Kehadiran itu tidak selalu hadir dalam dentuman aktivitas tambang. Di tengah kondisi operasional yang disebut masih slow down, dukungan terhadap kebutuhan dasar warga tetap terlihat melalui sektor transportasi, pendidikan, kebersihan lingkungan hingga bantuan sosial.
Camat Pulau Gebe, Usba Kamaraja, mengatakan keberadaan dan kontribusi perusahaan terhadap masyarakat tidak semata-mata dapat diukur dari tingkat produksi.
“Meski aktivitasnya masih slow down, tetapi kepedulian PT Smart Marsindo terhadap masyarakat Pulau Gebe tetap ada,” ujar Usba kepada media melalui sambungan telepon seluler, Selasa (11/8/2026) siang.
Salah satu dukungan yang masih dirasakan masyarakat, menurut Usba, adalah layanan bus sekolah. Armada tersebut melayani transportasi siswa di Pulau Gebe, termasuk perjalanan hingga Desa Sanaf Kacepo.
Dukungan perusahaan, kata dia, tidak berhenti pada penyediaan kendaraan. PT Smart Marsindo juga disebut masih menanggung upah sopir, biaya perawatan serta kebutuhan transportasi armada tersebut.
“(Perusahaan) sampai saat ini masih membayar upah sopir bus sekolah yang mengantar seluruh siswa di Pulau Gebe. Kalau ada kerusakan, termasuk transportasinya, juga dibiayai,” jelasnya.
Selain transportasi darat, dukungan juga disebut diberikan melalui penyediaan speed boat untuk menunjang mobilitas warga antardesa. Bagi masyarakat kepulauan, konektivitas laut bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Di bidang lingkungan, perusahaan turut menyerahkan truk sampah kepada pemerintah kecamatan dan masyarakat. Fasilitas tersebut diarahkan untuk membantu penanganan kebersihan dan pengelolaan lingkungan di wilayah Pulau Gebe.
Sementara di sektor pendidikan, dukungan perusahaan disebut menyasar pengembangan infrastruktur sekolah. Salah satunya berupa rencana pembangunan dan penimbunan lahan untuk fasilitas pendidikan, termasuk SMAN 3 Halmahera Tengah.
Partisipasi sosial juga disebut berlangsung dalam berbagai momentum hari besar nasional serta melalui bantuan rutin bagi masyarakat di sekitar wilayah lingkar tambang.
Bagi pemerintah kecamatan, rangkaian dukungan tersebut menjadi bagian dari hubungan antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat. Kehadiran investasi, menurut Usba, idealnya tidak hanya dibaca melalui angka produksi dan aktivitas ekonomi, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan warga.
“Yang paling penting adalah masyarakat tetap merasakan manfaat dari keberadaan perusahaan, meskipun aktivitas produksinya belum berjalan sepenuhnya,” katanya.
Kisah Pulau Gebe menunjukkan satu hal sederhana adalah aktivitas produksi dapat bergerak naik dan turun, tetapi kebutuhan masyarakat tidak mengenal jeda.
Di antara tambang, laut dan permukiman warga, keberadaan perusahaan pada akhirnya diuji bukan hanya ketika mesin produksi berputar penuh, melainkan juga ketika masyarakat membutuhkan sekolah yang dapat dijangkau, transportasi yang tetap berjalan, lingkungan yang lebih bersih, serta dukungan sosial yang hadir secara nyata.
Namun, seluruh kontribusi tersebut tetap perlu ditempatkan dalam kerangka yang terukur, transparansi program, keberlanjutan manfaat, pemerataan penerima, serta keterbukaan mengenai realisasi dan dampaknya bagi masyarakat. Sebab, kepedulian sosial yang kuat bukan sekadar tentang apa yang diberikan hari ini, melainkan tentang seberapa lama manfaatnya dapat dirasakan warga Pulau Gebe. (Odhe)














