Desa Bahu Halsel—Lidikpost.Com | Talud penahan ombak di Desa Bahu Kecamatan Mandioli Selatan Kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara, rusak parah akibat dihantam gelombang pasang musiman yang sering terjadi mulai bulan juni sampai Desember setiap tahun berjalan.
Dan juga talud mulai di tahun 2009 itu sudah mengalami kerusakan di beberapa titik, hal ini diakibatkan Hantaman Gelombang besar juga disebabkan usia bangunan yang sudah tua.
“Ada beberapa titik talud yang Roboh itu sejak tahun 2021 kemarin dan warga yang rumahnya berada di pesisir pantai sudah sampaikan keluhan ke Pemerintah Desa,” ucap Lutfi. Selasa,
8/07/2024).
LUTFI M. SANGAJI, salah satu tokoh muda Desa Bahu Kec. Mandioli Selatan Kab. Halmahera Selatan / istimewa
Halsel—Flidikpost.Com | Talud penahan ombak di Desa Bahu Kecamatan Mandioli Selatan Kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara, rusak parah akibat dihantam gelombang pasang musiman yang sering terjadi mulai bulan juni sampai Desember setiap tahun berjalan.
Salah satu Tokoh Muda asal Desa Bahu Lutfi M. Sangaji saat ditemui media lidikpost.Com menyampaikan bahwa Talud (Swering) yang dibangun mulai tahun 2009 hal ini diakibatkan Hantaman Gelombang besar juga disebabkan usia bangunan yang sudah tua.
“Ada beberapa titik talud yang Roboh itu sejak tahun 2021 kemarin dan warga yang rumahnya berada di pesisir pantai sudah sampaikan keluhan ke Pemerintah Desa,” ucap Lutfi. Pada Mingu (08/07/2024).
Sambung Ute sapaan akrab Lutfi M. Sangaji, akibat ambruknya talud penahan ombak sekitar ratusan meter lebih itu membuat warga yang rumahnya dekat pesisir pantai sangat resah ketika datangnya musim Ombak (Selatan), sebab biasanya musim ombak itu terjadi mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Desember setiap tahun berjalan.
Kondisi Talud Penahan Ombak Desa Bahu Kec. Mandioli Selatan yang ambruk akibat hantaman Ombak. (dok/fm)
Dikatakannya, masalah ambruknya Talud (swering) ini menjadi perhatian kita semua apalagi Pemerintah Desa, namun menurut Ute sejak 2021 sampai sekarang belum ada tindakan serius yang diambil oleh Pemdes Bahu, padahal masyarakat sudah sampaikan berulang kali.
“Sampai sekarang belum ada tindakan dari Pemdes terkait robohnya talud penahan ombak, sementara masyarakat resah apabila datangnya musim ombak,” terang Ute.
Menurutnya, penanganan atas ambruknya talud tersebut merupakan hal yang sangat urgen, sehingga Pemerintah Desa tidak boleh diam berpangku tangan, sebab ini menyangkut dengan keselamatan warga yang bermukim di area pantai.
Lebih lanjut Lutfi meminta kepada Pemerintah Desa Bahu alias Kades, agar segera membangun koordinasi dengan Dinas terkait untuk masalah tersebut, guna dilakukan tindakan perbaikan atau pembuatan talud yang telah ambruk akibat hantaman ombak, jika tidak diminta untuk anggarakan dalam APBDes Perubahan atau di APBDes Pokok tahun 2025 mendatang.
“Kami minta Kades Bahu pro aktif menyikapi keluhan warga, yakni segera berkoordinasi dengan Dinas terkait, bila perlu segera anggarakan di APDes perubahan atau APBDes pokok tahun 2025” imbuhnya.
Sementara dalan kesempatan yang sama Pemerhati Desa wilayah Kec. Mandioli Selatan Ahmad R. Adam menyampaikan keprihatinannya atas kondisi warga Desa Bahu yang rumahnya berada di pesisir pantai, sebab jika tidak ditangani secara cepat persoalan talud yang ambruk, maka saat datangnya musim ombak bisa mengancam warga apalagi terjadi ombak di waktu malam.
“Pemdes Bahu tidak boleh berdiam diri harus secepatnya ambil tindakan untuk pembuatan talud yang sudah roboh akibat hantaman ombak, hal ini dilakukan agar warga yang berada di area pantai tidak lagi resah saat datangnya musim ombak,” ujar Mado panggilan akrab Ahmad R. Adam mengakhiri. (Tim red)









